× Redaksi Pedoman Media Siber
Beranda Post Ini Perbedaan Alasan Jokowi dan Soekarno Pindah Ibu Kota

Ini Perbedaan Alasan Jokowi dan Soekarno Pindah Ibu Kota

SHARE
Ini Perbedaan Alasan Jokowi dan Soekarno Pindah Ibu Kota

Monas/Tirto

KDNNews

Dalam sejarah Indonesia, wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta pasti memiliki sebab yang penting. Ada faktor pendorong kenapa Kepala Negara memutuskan untuk memindahkan ibu kota negara.

Menurut Sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam, di era Presiden Soekarno, memindahkan ibu kota sudah dilakukan beberapa kali dengan alasan tertentu.

Ketika pusat pemerintahan diputuskan untuk pindah ke Yogyakarta, Soekarno ketika itu melihat Jakarta dalam kondisi tidak aman.

"Yogyakarta ditawarkan jadi pusat pemerintah karena ada situasi genting. Jumlah TNI dan Polisi ketika itu tidak cukup, itu yang menjadi faktor pendorongnnya," ujarnya, dalam diskusi Polemik MNC Trijaya soal Gundah Ibu Kota Dipindah di D'consulate Resto & Louge, Jakarta, Sabtu (24/8/2019).

Soekarno juga pernah memindahkan ibu kota ke Pulau Sumatera. Ketika itu, Presiden mengirim surat pembentukan pusat pemerintahan darurat di Bukit Tinggi.

"Ada kondisi darurat kenapa Indonesia dipindah," ujarnya.

Pada 1957, ketika Soekarno meresmikan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, terbesit keinginan untuk memindahkan ibu kota ke wilayah yang lebih aman. Ketika itu dia melihat Kalimantan Timur cocok menjadi ibu kota.

Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) faktor pendorong pemindahan ibu kota bukan lagi soal adanya situasi genting atau darurat. Melainkan beban Jakarta yang semakin besar.

Kemacetan di Jakarta akan semakin bertambah, kemudian diprediksi dalam 40 tahun ke depan 95 persen wilayah Jakarta akan tenggelam.

"Jadi faktor pendorong (memindahkan ibu kota) itu ada. Ada harapan ditempatkanya ibu kota melihat dan mewujudkan pembangunan menoleh ke timur," ujarnya.

Sumber